LP3A
Universitas Muhammadiyah Malang
LP3A
Universitas Muhammadiyah Malang

Menteri PP dan PA Sedang meresmian TCCW-UMM

Author : Administrator | Kamis, 24 Juni 2010 17:27 WIB

Keprihatinan Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terhadap meningkatnya kasus kekerasan di kalangan perempuan dan anak mendapat sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan  dan Perlindungan Anak (PP dan PA) Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP. Ketika hadir dalam seminar di UMM, Linda Gumelar, panggilan Menteri PPdan PA, Senin (21/6), menyatakan mendukung didirikannyaTrauma Center for Children and Woman (TCCW) di UMM.

 

“Saya sudah meyakinkan kepada semua kementerian, agar persoalan perempuan dan anak masuk menjadi program kerja mereka. Perhatian terhadap persoalan ini harus melibatkan semua pihak termasuk di kalangan universitas,” kata Linda, sesaat sebelum menandatangani prasasti peresmian TCCW UMM.

 

 

 

 

 

Dalam keynote speech  tentang penanganan HIV/Aids di kalangan perempuan dan anak, Linda menerangkan kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia sejak 1987 silam. Berdasarkan data yang diperoleh dari Menkes hingga Desember 2009 ditemukan sebanyak 19.973 kasus semacam itu di 32 Propinsi di Indonesia, 50,3 % penularan berasal dari heteroseksual, interaksi Durg User (IDU) sebesar 40,2 % dan  3,3 % pelaku homoseksual.

 

 

 

 

Berdasarkan jenis kelamin, lanjut Linda, 73,7 % penderita adalah kaum laki–laki sedangkan perempuan hanya 25,8 %”. Hal tersebut, bukan saja kasus sederhana untuk ditangani  karena menyangkut masa depan perempuan dan anak. Banyak wanita yang terjangkit bukan karena penyimpangan seks melainkan karena tertular oleh pasangan yang memiliki perilaku seks beresiko tinggi. “Selain itu, korban trafficking banyak menderita penyakit kelamin atau semacamnya. Sedangkan data dari beberapa Negara di Asia menyatakan bahwa perempuan menikah yang mengalami kekeresan seksual lebih berpotensi terjangkit HIV/AIDS dibandingkan perempuan yang tidak mengalami kekerasan,” tambahnya.

 

 

Pencegahan terhadap hal itu, menurut menteri, bisa dilakukan dengan promoting, preventive dan penyuluhan mengenai bahaya HIV/AIDS. Serta merubah pandangan sosial budaya mengenai perempuan. Konsep gender sangat penting untuk perempuan, akibat ketidakadilan gender penanganan HIV/AIDS menjadi tidak maksimal. Harapannya, para ahli kesehatan atau dokter keluarga semakin memahami kesetaran gender demi pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.

Rektor  UMM, Dr. Muhadjir Effendy, MAP, menyatakan bahwa LP3A adalah pengembangan dari Pusat Studi Wanita (PSWK) yang ada di UMM. “(Lembaga) ini sifatnnya masih embrional yang merupakan pengembangan visi dan misi dari UMM, yang perlu terus dikembangkan karena kemajuan bangsa tergantung pada kita memperlakukan perempuan dan anak,” terang rektor. Fenomena tentang kesataraan gender tidak perlu dibahas lagi, karena di beberapa hal perempuan sudah lebih unggul dibanding laki–laki, misalnya beberapa tahun terakhir Indeks Prestasi UMM dimenangkan oleh perempuan.

Menteri PP dan PA memanfaatkan kesempatan kunjungan ke UMM dengan meninjau lokasi TCCW dan Autis Center di sebelah barat Rusunawa I UMM. “Dengan adanya TCCW semoga UMM mampu menjadi pelopor dalam penanganan masalah perempuan dan anak apalagi di dukung dengan fasilitas bangunan yang cukup mewadahi dan indah seperti ini,” puji menteri PP dan PA. (rwp/nas) 

 

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image