LP3A
Universitas Muhammadiyah Malang
LP3A
Universitas Muhammadiyah Malang

Tak Ada PSK yang Mau Terima Kompensasi

 JAMBI

 

16 Oktober 2014 04:59 WIB
TURUNKAN PAPAN NAMA: Pascadeklarasi penutupan lokalisasi di Kota Jambi, suasana lokalisasi Payo Sigadung terlihat sepi Rabu (15/10). (Eddy Junaedy/Jambi Independent/JPNN)

JAMBI – Dua hari setelah resmi ditutup Pemkot Jambi, lokalisasi Payo Sigadung Rabu (15/10) tampak lengang. Tidak tampak lagi aktivitas para penjaja seks di sana.

Hampir seluruh rumah terlihat tertutup seperti tidak berpenghuni. Bukan hanya itu, warung makanan pun tidak buka. Para pemilik tempat hiburan mulai melepas papan nama tempat usaha mereka.

Hanya ada satu atau dua perempuan muda yang duduk di teras rumah atau tempat usaha mereka. Namun, tidak seorang pun yang mau berkomentar ketika ditanya soal penutupan lokalisasi yang juga sering disebut Pucuk itu. ’’Ya beginilah. Tidak ada lagi yang datang,’’ ujar mereka sambil menghindar.

Di lokalisasi hanya terlihat petugas keamanan yang berjaga. Ada tiga posko keamanan yang didirikan di tiga pintu masuk. Masing-masing posko dijaga 10–15 anggota polisi, TNI, dan satpol PP.

Bukhori, anggota Polresta Jambi yang kemarin bertugas di pintu masuk, menerangkan, sejak Minggu lalu, Pucuk sepi. ’’Tidak ada aktivitas lagi sejak Minggu pagi. Sepi sekali. Malam tadi (kemarin malam) juga tidak terdengar suara-suara musik,’’ katanya.

Dia mendengar kabar bahwa sudah banyak PSK yang keluar dari Pucuk. Entah pulang ke kampung halaman atau pindah jauh sebelum deklarasi dibacakan. ’’Kabarnya, sudah banyak yang keluar,’’ ujarnya.

Benny, anggota polresta lainnya, menyatakan, selain berjaga di luar, petugas berpatroli di dalam kompleks Pucuk. Mereka bertugas selama 24 jam bergantian dengan sistem sif. ’’Dari pukul delapan pagi hingga delapan malam, begitu terus berjaga-jaga. Mungkin akan dijaga sebulan atau tergantung perintah dari atas,’’ ujarnya.

Bukan hanya sepi, hingga kemarin, tidak seorang pun PSK lokalisasi Payo Sigadung yang mau menerima dana kompensasi. Informasinya, mereka menolak menerima dana konpensasi dari pemerintah. Mereka lebih memilih pulang kampung atau pindah ke lokasi yang baru. Beberapa daerah yang berpotensi menjadi lokasi baru bagi PSK tersebut adalah warung remang-remang di kawasan Sungai Bahar dan Batanghari.

Wali Kota Jambi Syarif Fasha mengakui, belum ada PSK atau mucikari di Pucuk yang meminta dana konpensasi. ’’Kalau Langit Biru sudah kami berikan kompensasi. Payo Sigadung belum diberi karena memang pihak di sana tidak meminta,’’ jelasnya.

Menurut Fasha, hingga kemarin, tidak seorang pun PSK lokalisasi Payo Sigadung yang mendaftarkan diri untuk pulang. ’’Bagi PSK yang belum mau pulang, kami mengharapkan setiap hari ada perubahan niat dari mereka untuk pulang nanti,’’ terangnya.

Fasha menuturkan, beberapa PSK Pucuk sudah pulang, namun mereka tidak memberitahu pemerintah karena malu. Karena itu, dana kompensasi tidak bisa disalurkan dan harus dikembalikan ke pemerintah pusat. (http://www.jawapos.com/baca/artikel/8154/Tak-Ada-PSK-yang-Mau-Terima-Kompensasi)

Shared: